Kopi Terpelajar

Di suatu sore di warung kopi yang ramai sekali dan setiap harinya harus antri jika ingin dapat tempat, berkumpullah tiga anak muda. Usia mereka 20 tahunan, mungkin jelang 21. Dari pilihan kata dan topik-topik dalam obrolan mereka, nampaknya mereka adalah mahasiswa di kota ini. Hal lainnya tentu saja dari cara mereka berpenampilan. Sederhana, namun cukup memberi kesan seorang terpelajar dalam artian yang sebenar-benarnya.

Mereka terus mengobrol dan mengulik satu topik dalam ragam perspektif, teori, referensi, dengan data dan tak lupa merujuk kepada pendapat-pendapat para ahli baik yang pro maupun yang kontra. Yang sepakat maupun yang menolak. Mereka memahami asas kehati-hatian dalam berpendapat, berargumen atau berbicara. Tidak jarang dalam obrolan, mereka mengecek data dari sumber terpercaya. Saya mencuri dengar sembari menyeruput kopi.

Baca juga:  Mensyukuri Keberuntungan

Dari obrolan mereka berikutnya, saya mulai banyak tahu. Satu mahasiswa berbaju putih yang duduk disamping sang kakak asuh adalah fans Arsenal dan mahasiwa satunya lagi fans Barcelona.

Sama seperti obrolan sebelumnya, mereka sepertinya memahami jauh tentang klub idola mereka. Kelihatannya mereka sangat mendalami hal-hal yang mereka senangi. Tentang klub bola; mereka paham soal sejarah, karakter fans, tipikal pemain dan pelatih hingga bursa transfer terupdate.

Rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu, demokratis, jujur mengakui dan menyadari hal-hal yang ia tidak tahu serta  komunikatif tergambar jelas dari mereka. Mereka memenuhi sekian syarat orang terpelajar dari puluhan syarat-syarat yang tertera di google. Saya mengikuti obrolan itu hingga mereka beranjak pergi.  Mendengarkannya seperti menerima mata kuliah 18 SKS. Isinya daging semua kalau kata youtubers. Sebuah obrolan yang berkualitas dan telinga saya terus-terusan mengikuti hingga mereka hilang dalam pandangan.

Baca juga:  Info Sembarang Tempat

Dan satu hal lainnya, sang kakak asuh mengutip pernyataan dari Pramoedya Ananta Toer, “Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.”

Itu yang saya ingat.(*)

Share Konten:

Baca Juga

PhotoGrid_1505436861659
Kebesaran PDIP dan Kekecilan Jokowi
Screenshot_20231118-134244_Word
Genosida Atau Perang Agama
IMG-20231017-WA0043
Dari Multimedia-Disorder Hingga Multimedia Journalism – Sebuah Catatan Sejarah Media
FB80BE04-B9D9-462E-B537-B591593C4DF5
Maqbul Halim Caleg Yang Callege-lege
FB80BE04-B9D9-462E-B537-B591593C4DF5
Kentut dan Tai

Infotainment

Scroll to Top