Kentut dan Tai

Kentut dan rasa malu. Dua hal yang tidak berhubungan. Tapi, kadang berdampak sosial lebih dari yang diperkirakan –sosiologi kadang memang membingungkan. Begitu juga dengan tai. Baik kentut maupun tai, sifatnya natural. Dan siapa yang mampu menolak yang natural itu. Jika pun ada, itu berarti Ia menolak dirinya sendiri.

Pekan lalu, saya mengajar mata kuliah pengantar filsafat di UKI Toraja. Di awal perkuliahan, saya meminta kepada mahasiswa untuk menggunakan otaknya untuk berpikir. Saya mensyaratkan itu secara wajib. Pertama-tama, saya meminta mereka untuk kritis kepada diri meraka sendiri. Saya katakan, jika mereka tidak kritis kepada diri sendiri, maka akan sulit untuk belajar filsafat. Sebab dari berangkat kritis kepada diri sendiri maka akan bermuara pada mengenali diri sendiri.

Saya kemudian memulai berbicara tentang kentut dan tai. Semua mahasiswa tertawa. Saya diam dan tidak menanggapi tawa mereka. Saya bertanya, kenapa tertawa? Apakah kentut dan tai itu sebuah lelucon? Mereka lalu diam dan saling berbisik. Saya meminta mereka untuk kritis terhadap kentut dan tai ini. Saya jelaskan bahwa untuk kritis terhadap kentut dan tai tidak akan sulit. Sebab tiap hari, kentut dan tai ini dilakukan oleh semua orang. Kecuali orang dengan kualifikasi khusus.

Saya menunggu satu menit. Lalu tiga menit. Kemudian lima menit. Tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Saya kembali memancing mereka “gunakan otak untuk berpikir”. “Tidak ada argumen, ide, gagasan yang langsung sempurna. Bahkan untuk menjadi benar saja, seseorang kadang harus berbuat salah” kata saya melanjutkan.

Seorang mahasiswa mengangkat tangan. Saya persilahkan menyampaikan idenya. “Saya malu kalau kentut Pak. Belum lagi jika suaranya kedengaran orang. Dan busuk lagi Pak”. Semua mahasiswa kembali tertawa. Saya tidak menanggapi keriuhan itu. Meski mulut saya juga berontak untuk tertawa terbahak-bahak.

Baca juga:  Info Sembarang Tempat

Saya kira dan pada umumnya, orang akan menghindari untuk memperbincangkan kentut dan tai ini. Banyak hal yang tentu menjadi pertimbangan. Ada yang mengatakan jika memperbincangkan kentut dan tai itu tidak etis atau tidak sopan. Atau juga yang mengatakan jika itu sangat jorok. Bahkan, istri saya sendiri selalu menghindari perbincangan itu. Jika saya memulai, Ia mau muntah.

Secara khusus, kentut dalam tatanan sosial masyarakat Bugis secara khusus dan Sulawesi Selatan secara umum, tabu untuk diperbicangkan. Ya karena itu tadi, kentut dinilai tidak sopan. Apalagi jika kentut yang tidak disengaja dan di tengah banyak orang. Itu sungguh sangat memalukan. Bahkan, bisa sampai pada pembunuhan.

Itu bukan racuan. Tapi, berdasarkan catatan sejarah, ada sebuah peristiwa kentut tidak disengaja –dalam bahasa bugis disebut nakelo ettu, sampai pada peristiwa yang memilukan. Catatan Herman Jan Friedericy –kontrolir Belanda di Kerajaan Bone, tanggal 22 Juli 1922. Ketika itu, Friedericy mengunjungi rumah sakit di pusat kota Kerajaan Bone, Watampone dan mendapati sejumlah pasien yang dirawat dengan luka tusukan hampir diseluruh tubuhnya.

Diceritakan bahwa peristiwa itu terjadi pada sebuah pesta pernikahan di Kampung Ujung Lamuru, Bone. Peristiwa itu bermula ketika puncak pesta telah selesai. Dan, para keluarga dan kerabat bersiap untuk istirahat. Tapi, tiba-tiba ada suara kentut yang menggelegar. Jadilah banyak orang tertawa. Salah satu tamu kemudian gelap mata, mengeluarkan badik dan menyerang membabi buta. Akibatnya, delapan orang meninggal dan beberapa mengalami luka.

Peristiwa yang mirip juga terjadi di Pasangkayu, Sulawesi Barat, baru-baru ini. Seorang laki-laki berinisial BD membunuh temannya sendiri inisial Z. Pembunuhan itu terjadi karena pelaku jengkel kepada korban karena sering kentut didekatnya.

Baca juga:  Mau Enaknya, Tidak Mau Anaknya

Kupikir, ada yang menarik dari dua peristiwa yang berbeda waktu itu. Pertama soal siri’, memang secara umum masyarakat Sulawesi Selatan mengenal kata siri’ sebagai sesuatu yang patut untuk dijaga dan dipertahankan. Apalagi jika itu menyangkut nama baik individu maupun keluarga. Tapi, dalam pelaksanaannya, kadang siri’ ini dibawa kepada ranah yang sebenarnya tidak tepat. Contoh konteksnya dua peristiwa di atas.

Kedua, ketidaktahuan orang akan kentut. Apa itu sebenarnya kentut. Bagaimana prosesnya. Dan apa manfaatnya. Disinilah harusnya sains bertugas –memberikan pencerahan. Dalam banyak literatur, kentut itu sangat bermanfaat bagi tubuh. Dalam sebuah jurnal kesehatan; Healthline, menyatakan bahwa gas dan udara dalam sistem pencernaan sebagian diserap tubuh dan sebagian lain dilepaskan melalui kentut –inilah yang saya maksud natural itu pada awal tulisan.

Jika gas ini tidak dilepaskan sebagian, maka akan membuat perut kembung. Sejujurnya, saya sering mengalami ini. Apalagi, jika saya menahan kentut karena alasan tertentu. Karena itu, jika tidak tahan, saya terkadang meminta izin ke toilet untuk sekedar kentut saja. Jika sudah di toilet, saya tidak akan ambil pusing –suaranya kecil atau menggelegar; bodoh amat.

Jika semua orang punya kesadaran yang sama akan manfaat kentut. Dan memakai otaknya untuk berpikir. Kupikir, orang yang kentut di depan umum akan terlihat biasa saja. Bahkan, orang akan menyukainya dan memintanya, barangkali. Lagian, penelitian terbaru di University of Exeter Inggris, mengklaim bahwa gas pada kentut itu dapat mencegah berbagai macam penyakit.

Beberapa penyakit itu antara lain demensia, penyakit jantung, kanker, bahkan arthritis –pembengkakan dan nyeri yang dirasakan pada sendi. Wow, keren bukan. Menurut penelitian itu, pencegahan penyakit ini terjadi karena keberadaan kandungan gas hidrogen sulfida pada kentut. Barangkali, inilah alasan orang-orang India mempertandingkan kentut secara luas. Hadiahnya lumayan, sekitar 10 juta rupiah untuk juara 1.

Baca juga:  Banyak Jalur ke Parlemen

Sementara tai, tidak jauh berbeda. Secara sosial, masyarakat menilai tai itu buruk. Maka jangan heran jika tai itu dijadikan umpatan. Apalagi, jika berbicara tai di depan orang yang sedang makan. Kau barangkali akan ditegur dengan lemparan sendal. Begitu jijiknya orang pada tai. Tapi, apakah ada orang yang sanggup tidak tai selama tujuh hari? Fakta lainnya, dari tai itu, banyak penyakit dapat dideteksi secara akurat.

Saya sejujurnya heran akan fenomena ini sejak lama. Tapi, saya mendiamkan dan ikut arus saja. Ketika saya membaca artikel tentang kesehatan, secara khusus tentang kentut dan tai. Saya mulai memberi kesan yang baik pada dua hal yang dianggap buruk ini. Disisi lain, saya tetap menghargai penghindaran orang-orang. Saya lebih kepada kesadaran diri sendiri saja. Misal, jika saya tidak kentut atau tai dalam sehari itu, maka saya akan mengevaluasi makanan yang akan saya makan besok.

Inilah alasan utama, kenapa saya bertanya kepada mahasiswa saya. Apalagi, mata kuliahnya pengantar filsafat. Saya kira ini penting, agar mahasiswa peka terhadap persoalan di masyarakat. Dan, untuk sampai kepada pelibatan diri pada peristiwa sosial masyarakat, mahasiswa harus wajib kritis kepada diri mereka sendiri. Tujuannya, agar mereka mampu mengenali diri mereka. Sebab bagaimana mungkin mereka dapat terlibat dalam peristiwa sosial jika dirinya sendiri saja belum dikenali secara sosial. Aku mencintaimu.

Share Konten:

Baca Juga

PhotoGrid_1505436861659
Kebesaran PDIP dan Kekecilan Jokowi
Screenshot_20231118-134244_Word
Genosida Atau Perang Agama
IMG-20231017-WA0043
Dari Multimedia-Disorder Hingga Multimedia Journalism – Sebuah Catatan Sejarah Media
FB80BE04-B9D9-462E-B537-B591593C4DF5
Maqbul Halim Caleg Yang Callege-lege
FB80BE04-B9D9-462E-B537-B591593C4DF5
Mau Enaknya, Tidak Mau Anaknya

Infotainment

Scroll to Top