Kedatangan Golkar-PAN Matikan Hasrat Muhaimin jadi cawapres Prabowo

Koalisi Gerindra-PKB-Golkar-PAN telah terbentuk hari ini. Pembentukan koalisi ini tentu untuk memperkuat Capres Prabowo Subiyanto. Ini berita gembira. Tentu saja berita gembira, karena memotong total harapan Anies Baswedan bakal didukung oleh Partai Golkar dan Partai PAN. Inilah empat Partai penghuni Senayan.

Kalaupun koalisi ini mengalami guncangan, paling hanya PKB yang terpental. PKB meletakkan Muhaimin Iskandar sebagai syarat untuk tetap bersama Partai Gerindra, yakni Muhaimin Iskandar sebagai cawapres pendamping Capres Prabowo. Rumornya, jika bukan Muhaimin, PKB akan kabur dari koalisi ini. 

Jika seperti itu keadaannya, Partai PKB bisa bergabung ke Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Saat ini, Koalisi KPP dihuni oleh Partai Nasdem, Partai PKS, dan Partai Demokrat. Jika Cak Imin (Muhaimin Iskandar) ditolak sebagai cawapres di KPP, PKB bisa memboyong Muhaimin ke Koalisi Tanpa Perubahan (PDIP-PPP-Hanura-Perindo), untuk menjadi cawapresnya Ganjar Pranowo.

Baca juga:  Dari Multimedia-Disorder Hingga Multimedia Journalism – Sebuah Catatan Sejarah Media

Jika pun ditolak juga di Koalisi Tanpa Perubahan, Muahaimin masih punya jalan. PKB bisa berkoalisi dengan Partai PSI untuk mengekor pada Pak Jokowi yang hingga saat ini belum jelas siapa capres jagoannya. Hanya tersisa KPP yang tidak berselera mendapat dukungan dari Pak Jokowi.

Andaikan dukungan Pak Jokowi berlabuh di Ganjar atau di Prabowo, apakah PKB juga akan ikut? Saya yakin, PKB akan melepaskan diri jika dukungan Pak Jokowi berlabuh di Ganjar atau Prabowo. Di sinilah, PKB bakal menjadi penonton pada Pilpres 2024 nanti. Tentu saja, PKB gengsi untuk kembali bergabung lagi di koalisi pengusung capres Prabowo. Kecuali jika PKB mampu kandangkan Cak Imin, PKB akan tetap berkibar, bukan penonton.

Baca juga:  Kebesaran PDIP dan Kekecilan Jokowi

Kembali ke koalisi pengusung Capres Prabowo (Gerindra-PKB-Golkar-PAN), ini akan menjadi lawan tanding yang menggairahkan bagi Capres Ganjar Pranowo. Anies yang semula menjadi kompetitor serius bagi Ganjar, sekarang makin mengarah ke pinggiran kontestasi Pilpres 2024.

Ada perubahan konstalasi. Ganjar batal berhadapan dengan Anies yang merupakan lawan ringan, enteng, remeh,dan sepele. Tapi Ganjar tidak gentar menunggu Prabowo di arena Pilpres 2024. Ganjar sudah tahu, Pilpres 2024 hanyalah kewajiban belaka bagi Prabowo untuk menjadi capres.

Tentu alur cerita akan berbeda jika Capres Ganjar Pranowo berpasangan dengan Cawapres Anies Baswedan. Pasangan ini diyakini mampu membuat ibu Megawati berbahagia lebih awal. Juga dapat berarti bahwa selesailah kewajiban Prabowo untuk capres sampai tiga kali.

Baca juga:  Genosida Atau Perang Agama

Kalaupun Ganjar masih tetap dalam kepemilikan total Ibu Mega dan PDI Perjuangan, Ganjar masih tetap yang terbaik. Kalaupun Prabowo yang terpilih jadi presiden tahun depan, maka itulah nasib Ganjar dan itulah takdir Prabowo. Yang penting, Ganjar dan Prabowo adalah pelanjut program-program Pak Jokowi. (*)

Share Konten:

Baca Juga

PhotoGrid_1505436861659
Kebesaran PDIP dan Kekecilan Jokowi
Screenshot_20231118-134244_Word
Genosida Atau Perang Agama
IMG-20231017-WA0043
Dari Multimedia-Disorder Hingga Multimedia Journalism – Sebuah Catatan Sejarah Media
FB80BE04-B9D9-462E-B537-B591593C4DF5
Maqbul Halim Caleg Yang Callege-lege
FB80BE04-B9D9-462E-B537-B591593C4DF5
Kentut dan Tai

Infotainment

Scroll to Top